Setiap orang pasti punya batas ketakutannya tersendiri terhadap sesuatu. Tidak bisa disamakan batas ketakutan antara satu orang dengan orang yang lainnya. Sesuatu yang tidak menakutkan bagi seseorang belum tentu tidak menakutkan juga bagi orang lain, bisa jadi justru hal tersebut adalah hal yang paling menakutkan untuk orang lain.
Sewaktu kecil dahulu, aku pernah pernah menonton sinetron amerika tentang badut yang berjudul IT (bukan AYTI lho, ini ITH, saplak yang salah baca). Aku lupa persisnya sinetron ini bercerita tentang apa, yang aku ingat dalam film seorang badut yang biasanya lucu berubah menjadi sangat teramat sadis. Hal tersebut karena, lagi-lagi kalo gag salah, badut tersebut menculik anak-anak seumuran aku (waktu itu, nyong) untuk dijadikan bahan membuat eskrim.
Badut jelek itu lebih dari ketakutanku, badut itu telah menjadi trauma. Akibatnya aku menjadi tidak berani untuk pergi sendiri pada saat gelap, tidak berani untuk minum eskrim (yang ini bohong), bahkan aku takut untuk melihat badut-badut. Jangankan untuk melihat secara langsung, melihat foto seorang badutpun dapat membuatku lari terbirit-birit hingga terkencing-kencing.
Ketakutanku terhadap badut IT berhenti untuk beberapa saat yang lalu, hingga 2 hari yang lalu aku menemukan sesuatu hal yang JAUH lebih menakutkan dan JAUH lebih membuat trauma.