Archive for July, 2006

Tragis

Ya. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan nasib kapten Timnas Prancis di final piala dunia 2006. Pertandingan final yang juga sekaligus merupakan penampilan terakhirnya di lapangan hijau harus berakhir tragis. Penampilannya yang sangat cemerlang di 110 menit waktu pertandingan normal dan perpanjangan waktu seolah tertutupi oleh tindakkannya yang menanduk dada pemain lawan. Terlepas alasan yang ada dibaliknya, tindakan tersebut harus dibayar dengan sangat mahal.

Akhirnya, bukan peluit panjang yang menjadi tanda pensiunnya seorang jenius sepakbola modern, melainkan sepucuk kartu berwarna merah yang mengakhiri kariernya di lapangan hijau untuk selamanya. Semenjak saat itu, harapan-harapan banyak orang kepadanya untuk membawa pulang kembali trofi terprestisius sejagad raya mulai terbang, mengambang seiring dengan detik-detik yang berlalu.

Lawanlah yang pada akhirnya mendapatkan trofi diperebutkan setelah melalui drama yang sangat menegangkan.

Selamat untuk Italia yang menggenggam trofi Piala Dunia untuk yang keempat kalinya sepanjang sejarah. Kapan ya, timnas Inggris bisa adu penalti sehebat Italia semalem? Sakti euy, masup semua..

Comments (3)

Au revoir Zidane

Apapun hasil final piala dunia 2006 yang mempertemukan Prancis dan Italia, saat peluit panjang dibunyikan oleh hakim lapangan, maka pada saat itu pula dunia, umat manusia pecinta sepakbola akan kehilanggan salah satu meastro jenius di bidang olah raga sepak bola, Zinedine Zidane.

Setelah memutuskan untuk gantung sepatu dari klub real madrid beberapa saat sebelumnya, tidak lama kemudian, Zizou kembali memutuskan untuk berhenti dari lapangan hijau untuk selama-lamanya. Sebelumnya Zizou juga sudah pernah menyatakan untuk mengundurkan diri dari timnas Prancis untuk selama-lamanya. Namun, karena performa Prancis di kualifikasi piala dunia 2006 yang tidak kunjung membaik, akhirnya Zizou memutuskan untuk kembali lagi mengenakan kostum timnas prancis. Kembalinya Zizou tidak terlepas dari desakan dari publik prancis dan tentunya rayuan dari pelatih prancis, Raymond Domenech.

Kini prancis kembali berlaga pada partai pucak piala dunia bertemu dengan italia, setelah sebelumnya diragukan oleh banyak pihak. Keragu-raguan banyak pihak tersebut bukan tanpa alasan, karena pada penyelenggaraan piala dunia sebelumnya, Prancis harus menanggung malu karena dengan status juara bertahan mereka hanya mampu berlaga hingga babak pertama dan tanpa mencetak sebuah gol.

Hadiah terakhir yang pantas diberikan dunia, umat manusia bagi seorang maestro jenius sepakbola modern, Zinedine Zidane adalah memegang kembali piala dunia untuk kedua kalinya.

Terlepas dari apapun hasilnya nanti, Au revoir Zidane..

Leave a Comment

merinding

merinding bulu romaku.. haha..

merinding kali ini tidak ada hubungannya dengan tulisanku sebelumnya menenai trauma. Merinding sekarang jauh lebih asoy. Jadi semalam aku nginep dikampus buat nonton (kampring, efek tipi dirumah masih bodong) fifa worldcup two thousandth and sux (efek kesel karena inggris gag lolos semifinal)! Pertandingan Prancis vs. Portugal baru dimulai sekitar jam 2 pagi.

Nah, jam 2 pagi kan? padahal kampus udah mulai sepi sekitar jam 9 malem. Karena harus menunggu sekian lama dan kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan, maka tercetuslah ide untuk melakukan benchmarking bandwith download di kampus (haha ahlesyan, bilang aja mo download). Eksperimen pertama (udah kayak laporan TA ajah), dilakukan download pada sekitar pukul 21.30 – 24.00 ternyata hasilnya lumayan cepat dibandingkan download pada siang hari.

Dan yang paling terasa adalah ekprerimen ketika HP-ku mati, yang menandakan sudah pukul 00.00. Terjadi perubahan yang sangat drastis pada bandwith untuk download karena bisa mencapai 1 MBps. Aku hanya merinding menyaksikan pada progress bar yang ada karena berasa sedang lokal copy. Sengg.. senggg.. senggg..

Hasilnya 1,3 GB untuk lagu-lagu mandarin pesanan dalam waktu hanya sekitar 2 jam! Buat yang mau, aku mendownload Jay Zhou, Jolin, dan Wang Leehom lengkap dari album pertama mereka hingga album terakhir.

Comments (2)

trauma

Setiap orang pasti punya batas ketakutannya tersendiri terhadap sesuatu. Tidak bisa disamakan batas ketakutan antara satu orang dengan orang yang lainnya. Sesuatu yang tidak menakutkan bagi seseorang belum tentu tidak menakutkan juga bagi orang lain, bisa jadi justru hal tersebut adalah hal yang paling menakutkan untuk orang lain.

Sewaktu kecil dahulu, aku pernah pernah menonton sinetron amerika tentang badut yang berjudul IT (bukan AYTI lho, ini ITH, saplak yang salah baca). Aku lupa persisnya sinetron ini bercerita tentang apa, yang aku ingat dalam film seorang badut yang biasanya lucu berubah menjadi sangat teramat sadis. Hal tersebut karena, lagi-lagi kalo gag salah, badut tersebut menculik anak-anak seumuran aku (waktu itu, nyong) untuk dijadikan bahan membuat eskrim.

Badut jelek itu lebih dari ketakutanku, badut itu telah menjadi trauma. Akibatnya aku menjadi tidak berani untuk pergi sendiri pada saat gelap, tidak berani untuk minum eskrim (yang ini bohong), bahkan aku takut untuk melihat badut-badut. Jangankan untuk melihat secara langsung, melihat foto seorang badutpun dapat membuatku lari terbirit-birit hingga terkencing-kencing.

Ketakutanku terhadap badut IT berhenti untuk beberapa saat yang lalu, hingga 2 hari yang lalu aku menemukan sesuatu hal yang JAUH lebih menakutkan dan JAUH lebih membuat trauma.

Comments (2)

3 juLi 2006 *special thanks to Azil*

Dikumpul sajah.. :D

Comments (1)