mumpung kejadiannya masih segar dalam ingatan, tidak ada salahnya dituang ke dalam pensieve. sekalian untuk berbagi cerita dengan yang lain.
kemarin, hari jumat, seperti biasa aku harus mengantarkan pacar pulang ke rumahnya di daerah sungai bambu, plumpang, tanjung priok. dari depok, dengan menggunakan bus patas AC 82, sampai ke daerah permai berjalan baik-baik saja.
dari daerah permai, perjalanan ke rumah pacar harus dilanjutkan lagi dengan menggunakan angkutan kota dengan nomer 03. aku lupa trayeknya tapi yang jelas angkutan kota tersebut melewati dareah sungai bambu. daerah sungai bambu sebetulnya sudah terlewati ketika dalam perjalanan bus 82, namun tidak bisa dilalui karena perjalanan yang dilalui dengan melalui tanjakan yang berlanjut hingga ke daerah permai.
sebetulnya, ada persimpangan ketika keluar dari tol, sehingga bus 82 tersebut bisa melewati daerah plumpang, namun entah karena alasan apa yang jelas bus tidak pernah melewati persimpangan itu, melainkan memilih jalan yang melewati tanjakan, meskipun arahnya sama. yang membedakan hanyalah bila perjalanan dilakukan lewat plumpang, maka bus akan lewat bawah. padahal bila bus 82 tersebut melewati daerah plumpang akan banyak pengehematan yang dapat dilakukan, terutama penghematanongkos untuk menggunakan angkutan kota. aku yakin akan banyak orang yang berpendapat sama.
jadi perjalananku dengan menggunakan angkutan kota 03, merupakan perjalanan balik arah. karena hari pada saat itu cukup panas, padahal ketika berangkat dari depok cuaca sudah gerimis, maka aku dan pacar memutuskan untuk memcari angkutan kota yang tidak nge-tem dengan harapan lebih cepat sampai. tak berselang lama menunggu akhirnya datang juga angkutan kota 03 yang ditunggu-tunggu. tanpa berpikir panjang, aku dan pacar menaiki angkutan kota tersebut.
perjalanan dari daerah permai ke rumah pacarku mungkin hanya sekitar 5 km. buat yang tidak bisa mengira-ngira seberapa jauh 5 km, bayangkan perjalanan dari halte UI sampai ke Lenteng Agung. dengan berbekal pengalaman perjalanan sebelumnya, aku dan pacar, masing-masing menyiapkan uang Rp. 2000. padahal dengan berkaca dari domisiliku yang tinggal di daerah depok, perjalanan sejauh itu maksimal ongkos yang dikeluarkan Rp. 1500 karena jarak dekat. ongkos tersebut sudah dihitung dalam kerangka kenaikan BBM karena biasanya hanya Rp. 1000. dan memang dalam beberapa kali perjalanan, dengan menggunakan ongkos Rp. 1500 supir-supir tersebut tidak protes. mungkin hanya satu dua yang protes, oleh karena itu kami menyiapkan uang Rp. 2000, bila ada supir yang protes.
untuk perjalanan kali inipun, aku menyiapkannya dengan jumlah Rp. 3000 untuk dua orang, dan Rp. 1000-nya aku simpan bila sewaktu-waktu ada supir yang protes. selama perjalanan berkal-kalii, si supir tidak sabaran dengan mengebut, dan meng-klakson seenaknya. tanpa bermaksud bermain suku, tapi aku yakin supir tersebut orang batak, karena sewaktu ketika meng-klakson, supir tersebut menggerutu dengan logak batak.
ketika perjalanan tiba ditempat tujuan, seperti biasa akupun membayar Rp. 3000 untuk dua orang. biasanya hanya satu dua supir saja yang protes, dan memintanya dengan baik-baik aku pasti membayar kurangnya. namun untuk perjalanan terakhir, supir tersebut protes dan ditambah dengan protesnya dengan nada yang merendahkan. pertama-tamanya aku tanya baik-baik:
aku : “bang, emang berapa?”
dengan nada emosi,
supir : “LU TINGGAL DIMANA SI? GINIAN AJA MASIH TANYA?”aku : “bang, saya tinggal bukan disini. saya kadang-kadang aja ke sini. jadi berapa bang?”
supir : “DUA SETENGAH SATU ORANG!!”
aku yang tidak terima dipermaikan mulai panas,
aku : “eh, bang biarpun jarang kesini tapi saya tau paling malah dua ribu satu orang”lalu aku berikan Rp. 1000 sisanya ke supir tersebut. bererapa saat kemudian, supir tersebut memanggilku lagi dengan teriakan,
supir : “OOOIIII!!! KURANG NEEHH!!”aku yang udah terlanjur emosi,
aku : “APA LAGI BANG? PALING MAHAL JUGA SEGITU!!”kemudian berulang-ulang si supir mengatakan,
supir : “HEH!! TANYA AJA SAMA SUPIR-SUPIR YANG LAIN!!”mulai dari sini si supir mengambil ancang-ancang ingin turun. lalu langsung aku potong,
aku : “SAMA YANG LAIN JUGA BIASANYA MAU SERIBU LIMARATUS!! PALING MAHAL DUA RIBU!!”pacarku yang melihat kejadian itu lalu mencoba mengalah. disamping cuaca yang cukup panas, dan mengingat sedang berpuasa maka aku mengalah dengan menambahkan lagi Rp. 1000 ke supir dengan kasar sambil berkata,
aku : “JANGAN NAIKIN HARGA SEENAKNYA BANG!!!!”
si supir ternyata tidak terima dan turun. aku yang melihat hal ini, daripada konyol dan pacarku emang udah mengajakku untuk berjalan, akhirnya berjalan meninggalkan tempat kejadian sambil menoleh kebelakang. dan ternyata supir tersebut tidak turun dengan tangan kosong, melaikan dengan membawa linggis. ya, LINGGIS! aku setengah ngeri akhiran berjalan dengan membawa pacar, daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. si supir tersebut tidak mengejar, aku pikir karena waktu itu keadaan sedang ramai ditonton orang-orang. disamping itu, aku sudah berada di lingkungan yang relatif aman karena tidak jauh dari situ adalah rumah pacarku.
edan!